Minggu, 18 September 2016

Kembang Api Tahun Baru

We were with our friends, but you sped up your vehicle, left them alone. Making us, only us.

We were walking, trying to get a perfect spot for watching the fireworks. The new year. The last year we were gonna be together, since we both did not know where we were gonna be next January. I asked about our friends, you just shrugged, did not care. Was it because you wanted the alone time, me and you? I don't know. I didn't ask.

We were talking. About you. About me. About us. About the future. About the dreams, the much, much further days. By now, I know our dreams are not come true. But that's okay. We are doing something much interesting, towards different targets, different tomorrow.

We were sitting. Suddenly, you grabbed my arm and pulled me into the crowd. I protested, but you insisted. I did not know you were going to the place where we could see the sky better.

We were standing there. The fireworks launched into the sky. You tried to record the moment in your gadget. I watched the firework in the screen of your cell. You looked at me, then pulled it down.

"Let's enjoy the moment."

We were standing there, in the center of the crowd, with a lot of people. Yet, somehow, it felt like we were alone. Looking at the fireworks, like two stupid people, not a word said. You, beside me.

At that time, I was sure. Of course next new year, I will be with you. I mean, why wouldn't we? We through a lot of hard, exhausting weeks. And we survived! I didn't care what people said, I didn't care for their warning.

After the show, we talked. A lot. A promise was said. "We will meet again."

Next two new years, I was alone in my room. I was too lazy to go anywhere, even though my friends asked to see the fireworks. I didn't want to. I didn't want to feel your presence there, thinking about my stupidity.

Because, not two months after, you left me. For another, more caring woman. Shattered my heart that easily.

So.

Why should I?

Sabtu, 03 September 2016

Another serial : Modern Family!

Sangat sulit bagi gw, orang yang sangat picky, untuk memulai serial baru. Gw setuju banget sama Sheldon Cooper yang bilang bahwa memulai nonton serial baru itu butuh komitmen tingkat tinggi, karena, apapun yang terjadi, mau kualitasnya menurun kek, mau ganti cast kek, whatever is happening, gw bakal nonton sampe abis.

Jadi, ketika gw sedang sangat kehausan membutuhkan serial baru karena 2 Broke Girls bener-bener bikin gw BT nontonnya (no comment), gw menemukan serial ini : MODERN FAMILY!


Ki - ka : Gloria-Joe-Manny-Jay from Pritchett family; Luke-Alex-Claire-Phil-Haley from Dunphy family; Mitchell-Lily-Cam from Pritchett 2.0 family


They like white or what?


Serial ini diawali dengan perkenalan masing-masing keluarga, berlatar belakang di LA, California. Keluarga Dunphy, keluarga yang bisa gw bilang kita sering liat sehari-hari : sepasang orang tua dengan tiga orang anak. Keluarga Pritchett-Delgado, keluarga yang, well... agak tidak sering dilihat, sepasang orang tua yang umurnya beda jauh dan anak bawaan dari si wanita. Keluarga Pritchett 2.0, yang jelas paling jarang dilihat, sepasang orang tua gay dan anak adopsi dari Vietnam. 

Pasti tiap keluarga punya masalah yang berbeda-beda dengan karakter yang berbeda-beda pula. Dunphy family, dengan emak, Claire, tipikal emak-emak bawel dan repot tapi sayang anak, Phil, bokap-bokap yang suka konyol, Haley, si anak pertama yang super populer dan centil, Alex, si anak tengah yang jenius luar biasa dan cupu, Luke, si bungsu yang rada-rada bloon. 

Pritchett family, dengan kepala keluarga, Jay, yang udah tua dan super grumpy, Gloria, si istri dari Meksiko yang cantik, seksi, dan sayang anaknya banget, Manny, anak kandung Gloria dan suaminya sebelumnya, yang classy af dan cheesy also af.

Pritchett 2.0, dengan pasangan gay Mitchell, yang tight dan, sama kayak kakaknya, Claire, perfeksionis, Cam, too much flair and dramatic, serta Lily, anak yang mereka adopsi.

Serial ini menceritakan banyak hal : tentang pentingnya sebuah keluarga, hubungan antara saudara, hubungan antara ayah-anak, ibu-anak yang rumit, masa lalu yang kadang menyedihkan, masa depan yang gak bisa disangkal begitu menakutkan. Serial ini ngasih tau seringnya prasangka buruk kita berakhir dengan kejadian yang gak enak. Ngasih tau cinta seorang ibu ke anak-anaknya, sayang seorang ayah ke putra-putrinya, kasih yang gak selalu ditunjukkan dengan kata-kata manis.

Setiap episode pada umumnya memberikan pesan moral ke kita, para penonton. Gw sering banget ngakak karena komen sarkas yang dilontarkan para pemeran, baik yang dewasa maupun yang anak-anak. Sering pula gw menahan air mata karena adegan-adegan yang kadang nusuk banget di dada. Overall,  gw ngerekomendasiin banget serial ini!!

Family Tree

Sekarang, serial ini sudah mencapai 7 season dan bakal premiere lagi bulan September nanti. Modern Family biasa diputer di ABC. Formatnya mockumentary (karakternya suka ngomong ke kamera gitu) jadinya berasa personal banget ke penontonnya, haha. Gw gak tau sih apakah penulis sengaja bikin diversity dari serial ini tingkat dewa atau apa, tapi ya emang dewa. Jokesnya kadang gw kira rasis tapi jadi gak rasis (nice touch in every jokes) dan sarkasnya tingkat tinggi.

Dunphy's. Di iklan susu.

Christmas with no snow. Classic.


The girls!

Nah jokes gini nih maksud gua

Why, Jay?
FIX THAT STEP!!

 Magazine covers!


Gimana menurut kalian?

Later on new review!

Ketidakrugian Jadi Mahasiswa ITS

Sekarang udah 2016. Udah dua tahun gw jadi mahasiswa, udah gak bisa dibilang mahasiswa baru lagi :')

Kalo mengingat-ingat dulu, kesalahan yang pernah dilakuin dan hal-hal nyenengin yang udah gw alamin, ada nyesel ada nggaknya juga. Nyesel kadang "Dih kenapa yak gw dulu kaga begini begitu", tapi kalo ditanya apa yang mau diubah dari sekarang... gak ada sih. IP paling ya (haha).

Untuk kalian para mahasiswa baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember, gw ucapkan selamat datang. Cielah, udah gak anak SMA lagi nih yee.

Buat yang pilihan pertamanya bukan ITS, menangislah kalian sebentar. Sebentar aja. Soalnya, banyak kok untungnya jadi anak ITS.

1. Pasti bakalan punya banyak temen
Gak usah dengerin cerita-cerita horor dari senior kalian kalo kehidupan perkuliahan bakal dijalankan sendirian. Di ITS cerita horor ini gak berlaku. Kalo cerita horor di jembatan Statistika mah berlaku, wkwk.

Karena lo bakalan dikader selama, well, minimal 3 bulan (normalnya 6 bulan sih), pasti temennya banyak. Kalo pun gak bisa deket sama semua orang, asalkan buka diri dikiit aja, seenggaknya satu dua orang temen bakalan nempel sama lo. Jadi, jangan khawatir.

Dua tahun masih berkumpul aja koks

2. (Untuk cewek) Pria-pria ITS itu gentleman
Cowok-cowok di sekitar lo banyak, tapi jangan samakan mereka dengan lelaki ITS. Mereka itu gentleman tingkat dewa. Let's face it, cowok baper ada banyak, cheesy gak usah ditanya, tapi yang mendahulukan cewek, ya jarang.

Ini gw juga gak tau sih penyebabnya kenapa. Apakah dari 'bahan'nya udah berlaku sopan dan baik hati tidak sombong rajin menabung, atau karena didikan pengkaderan juga? Who knows. Tapi, gak usah takut, ladies. Hidupmu akan lebih mudah kalo kuliah di ITS.

Iya, saya emang pasukan tukang nebeng
3. Gak bakal gabut...
Kalo kamu memilih untuk gak gabut. Sangat, sangat banyak kegiatan yang bisa kamu pilih selama kuliah di ITS. HMJ, BEM-F, BEM-I, UKM, LMB, Senat, komunitas, kepanitiaan, tinggal pilih dan berkomitmen, dan BOOM! Waktumu tersita banyak.

Hati-hati buat lo mahasiswa baru. Terkadang, suka terhipnotis jadi mengikutkan diri di semua kegiatan, terus akademiknya ketinggalan... kayak yang nulis ini.

Nah mabok kan jadi panitia mulu

4. Kamu jadi tahan pedas!!!
Awalnya gw takut bakal terjebak dengan makanan Jawa yang agak manis. Ternyata, nggak sama sekali!

Makanan disini jauh, jauh lebih pedes daripada makanan di Tangerang. Beberapa kali gw diare (ya karena pedes, ya karena makan di pinggir jalan HAHA MADAFAKAH) yang membuktikan betapa saktinya makanan Surabaya. Sampe-sampe, gw udah kuat makan sambel emak gw yang terkenal pedasnya ke seluruh jagat raya.

5. Internetnya mayan
Kalo lagi di kampus, biasanya gw dan kawan-kawan ngedonlot seenak jidat pake proxy jurusan. Kurang ajar, ya? Emang. Tapi cepet sih emang. Meski yang paling cepet emang di TC sih, koneksinya, tapi TI juga koks.

6. Menangisi IP bersama
ITS sangat terkenal dengan sulitnya ngedapetin nilai!! Okelah, di tahun pertama IP masih bagus, cumlaude juga bisa... tapi hati-hati di semester selanjutnya! Modul dan praktikum membunuhmu! Yang bikin kita jadi...

7. Berubah menjadi anak malam
Bahkan yang tidurnya paling pagi sekalipun terpaksa pull-an-all-nighter ketika ada deadline 3 modul bersamaan. Pernah terjadi sama gw sekali. Bangun Kamis subuh, baru tidur Jumat Ashar. Gila? Emang. Kantong mata gak bisa dihindari.



Lho, jadi ini kerugian atau ketidakrugian? Yaa disyukuri ajalah ya. Selamat datang teman-teman 2016, kenakan almamater birumu dengan bangga!!

Salam dari cewek-cewek TI ITS 2014!

Hmm, apalagi ya? Mungkin para veteran ITS bisa menambahkan?

Jumat, 10 Juni 2016

Kegelapan Apa Sih?

Sekarang gw ada di akhir semester 4, titik dimana semua mahasiswa terduduk, termenung, membatin selama berhari-hari : “Gw ini mau kemana sih?”

Yang goblok kayak gw, yang IPnya mati segan hidup tak mau, bertanya dalam hati :
“Gw bisa survive dunia kerja apa nggak?”
“Gw bakalan ngapain nanti, 2 tahun ke depan?”
“Sebenernya gw mau jadi apa, sih?”
“Kenapa usaha gw gak juga berbuah hasil?”
“Bisa-bisanya nilai gw begini, padahal orang tua gw udah mengusahakan yang terbaik?”
“Yang gw lakukan sekarang, bergunakah nanti?”

Kalo lo melontarkan pertanyaan yang sama kayak gw... lo gak akan menemukan jawabannya disini. Gw bahkan gak punya hak untuk nasehatin lo buat tetep kuat, tetep percaya, tetep yakin, atau motivasi-motivasi lainnya. Level kita sama, brah.

Gw cuma mau ngasih tau, lo gak sendiri. Pertanyaan itu bukan cuma muncul di kepala lo, tapi di kepala temen-temen lo. Bahkan si ‘straight As’ alias transkripnya A semua. Dia juga wonder tentang sesuatu. Jadi, ini semua WAJAR.

Lo gak sendiri. Gw juga takut ketika masa depan gw segelap kampus lagi mati lampu. Gw takut bertemu horornya kehidupan, jatoh terguling-guling sampe berdarah sampe gak bisa bangkit.
Namun, yang gw sadari adalah : gw gak sempurna. Gw tau gw udah usaha sekuat tenaga, gw berusaha tetep di jalan lurus (meski kadang suka ‘menikung’). Menghajar mental diri sendiri, fokus pada yang salah gak akan mengubah semuanya.

Hati cuma berharap, semoga nanti, ketika gw udah beneran dewasa, semua sudah baik-baik saja, gw bertanya-tanya dalam hati, ‘Ngapain ya dulu gw khawatir?”

Source : 9GAG (takut kena masalah sitasi)

Teman yang Sebenarnya

Sewaktu masuk kuliah, gw begitu takut. Like, literally freaking out. Gw gak bisa nemuin temen-temen kayak temen SMA gw, yang tahu bibit, bebet, dan bobot gw. No one cares. Padahal gw di daerah rantau. Gimana dong?

"Kita udah gede, ngapain punya temen deket?" nasihat itu disampaikan. Gw memegang itu teguh sampe sekarang. Gw gak keberatan sendiri, gw gak keberatan bersama. Gw pikir, "Oh, ya, ini mungkin saatnya belajar jadi dewasa, apa-apa sendiri."

Hari ini menceritakan yang lain. Gw jatuh sedalam-dalamnya, dan teman baik gw yang narik dari lubang tersebut. Ketika gw rasanya mau tenggelam ke laut aja, dia ngelempar pelampung.

Senin, 06 Juni 2016

Aku Harus Disini?

Bangun siang tidur pagi. Kegiatan anak sok sibuk organisasi macam gw.

Gw ngeliat jam HP. Jam 6 pagi. Gw duduk, gosok-gosok mata. Kenapa gw kebangun? Gw inget gw baru tidur setelah gw subuh.

Terus gw denger suara orang di ruang keluarga.

Watdehel. Indi dan Adis udah balik ke Jakarta, hence gw sendirian di kontrakan. Jangan-jangan ada yang masuk rumah?? Gw bangun, nyalain lampu kamar. Itu suara gw kenal, dua orang.

Gw buka pintu. Nyokap bokap gw lagi duduk di ruang tamu, sambil makan martabak.

"Lho," gw kata. "Mama Papa ngapain disini?"
"Kan mau puasa," jawab emak gw. "Masa kamu puasa sendirian di Surabaya?"
"Dedek gimana?"
"Ya dia mah kuliah."

Gw langsung meluk emak gw. "Ih, kok gak bilang-bilang sih mau kesini?" gw nyalain TV, terus nonton berita. Akhirnya TV gw bener juga. Gw ngobrol sama orang tua gw, ketawa-tawa, terus berencana mau pergi keliling Surabaya.

"Kamu mandi dulu, gih, bau," kata nyokap gw.
"Makanya, Kak, jangan jadi tikus kampus," ujar bokap. Itu istilah yang dia pake buat mahasiswa yang kerjannya seharian di kampus, gak inget rumah dan tugas. Gw meringis. Gw jarang nelpon orang tua gw karena alasan pulsa dan jadwal sibuk. Tapi, alasan sebenernya adalah gw gak bisa menahan diri untuk gak rindu sama rumah, keluarga gw, setiap kali nelpon. Setiap gw denger suara mereka, rongga kosong di dada makin berasa.

Alarm HP bunyi.

Gw kebangun. Gw di kamar, tidur, bukan sama orang tua gw. Yang pertama gw liat meja belajar. Gw langsung terduduk sampe pusing, nyamber HP. Jam 8 pagi.

Gw keluar kamar. Kosong. TVnya mati. TV kontrakan emang rusak beberapa minggu ini. Ruang tamu udah terang, tapi gak ada siapa-siap disana, cuma gw sendirian, sedang merindukan.

Terus gw nangis gak terkontrol.

Senin, 09 Mei 2016

Untuk Kamu yang Pintar Berbicara

Pikiran ini sebenernya udah beberapa kali terlintas di pikiran setiap kejadian serupa terjadi di depan mata, tapi gw baru bener-bener memikirkannya.

Salah seorang temen gw punya kepercayaan diri yang sangat rendah. Dia paling males kalo menyampaikan pendapat di depan forum. Padahal, menurut gw, banyak banget ide-idenya yang bagus buat diterapin dan bisa nyelesein masalah. Jadi, tiap kali dia punya pemikiran tersendiri, doi selalu minta tolong sama gw untuk mengungkapkannya.

Awalnya gw ngikut. Gw ngulang apa yang mau dia sampein, terus gw katakan di depan orang banyak, dengan awalan, "Menurut teman saya."

Pada satu kesempatan, gw melewatkan satu poin penting yang pengen dia sampein ke depan umum. Gw lalu bilang, "Ya udah, ngomong ajaa biar poinmu gak ada yang kelewatan, kan biar enak orang pada tau itu pikiranmu juga!"

Dia mengkeret. Literally. "Ah, nggak, ah. Kamu aja."

Berkali-kali gw maksa dia. Dia bilang, malu sama suaranya yang suka meninggi di tengah. "Orang gak bakal ada yang peduliin, yang penting isi omonganmu!" debat gw kala itu, tapi dia bergeming.

Di satu forum di jurusan yang membahas pengkaderan, gw lagi gak duduk di deket dia, sehingga dia angkat bicara sendiri.

Everyone listen to him. Gw sendiri lupa apa yang diperdebatkan, tapi gw wajar kalo orang-orang pada memperhatikan, karena poin yang di bawa bagus.

Tiba-tiba, suara dia meninggi di tengah gitu. Kayak melengking. Sontak satu forum ketawa semua. Gw juga ikut ketawa. Dia garuk-garuk kepala, mukanya pias. Dia melanjutkan pembicaraannya, namun para peserta forum malah ngeledek nada suaranya, hingga apa yang dia katakan gak kedengeran lagi. Dia duduk, menutup argumen.

Bisa ditebak setelah itu dia gak pernah mau bicara depan umum lagi.

Gw selalu menyalahkan kalo dia itu orangnya rendah diri, pesimis, blablabla. Gw berusaha nge-pep talk supaya dia ngomong lagi di forum, tapi dia menolak. Gw pun nyerah.

Sebuah cerita sama tapi tak serupa terjadi sama temen gw yang lain. Setiap kali dia ngomong bahasa Inggris, semua orang disekitarnya ngeledek aksen Jawa-nya yang lumayan kedengeran. Menurut gw sendiri, pronunciation doi bagus, dan aksen bukan sebuah masalah.

Gw meminta dia buat ngomong berbahasa Inggris. Gw gak inget kenapa, tapi gw butuh. Gw ditolak.

"Lah, kenapa dah?"
"Bahasa Inggrisku jelek, Sar."
"Apa-apaan dah, siapa yang bilang jelek, bagus gitu kok."
"Kamu sih gampang ngomong gitu," dia menatap agak-agak kesel. "Kamu kan kelas Q. Lak aku mah cuma anak kelas reguler. Bahasa Inggrisku diketawai orang."

Setelah itu anak berlalu berlalu, gw keinget temen gw yang pertama. Dua-duanya berusaha bicara di depan umum, tapi gak mau lagi karena diketawain orang, diledekin, dihina, ditiru. Gw juga melakukan itu. Gw juga ngetawain mereka.





Ini gak sekali dua kali. Ini sering terjadi. Yang paling bikin gw malu adalah, gw juga termasuk kelompok yang menertawakan. Mentang-mentang gw overPD, gw seenaknya aja nganggep usaha mereka itu lucu. Padahal, buat dia mungkin itu menyusahkan. Buat dia itu perlu segenap keberanian, yang gak mudah buat dikumpulkan.


Untuk kamu yang pintar berbicara, yuk hilangkan budaya ini. Jangan menertawakan pendapat orang lain sebegitu mudahnya. Gak gampang menemukan setitik keberanian untuk mengeluarkan kata-kata dari bibirnya, menyampaikan isi kepalanya. Ketika keberanian yang hanya sedikit itu kamu ketawain, jelas aja dia jadi gak mau bicara lagi.

Untuk kamu yang pintar berbicara, yuk ajak temen-temenmu untuk ungkapkan pendapat mereka. Tegur orang-orang yang kerjanya ngeledek aja.

Untuk kamu yang bahkan gak pernah berbicara di depan umum, tapi suka ngeledek kebiasaan unik temenmu ketika berbicara... coba ngaca sek. Kamu aja gak bisa apa-apa, hakmu apa menghina orang lain?