Sabtu, 04 Maret 2017

Hard Lyf

Apakah gw manusia tidak berhati? suatu hari gw ditanya sama orang lain. "Lu selalu gak peka, gak sensitif, gak mikirin perasaan orang lain!"

Lah kalo ditanya gitu, gw gak bisa jawab lah. Jawaban diplomatis, "Mungkin dari sananya kali," atau "Ya emang gw gak punya hati deh."

But to be honest, setelah banyak kejadian peranzingan akhir-akhir ini, gw punya satu teori : gw gak peka karena hidup gw keras.

Gw gak perlu cerita panjang, pokoknya dari SMP gw udah ditampar bolak-balik, ditonjok, dijambak oleh kehidupan. Masalah keluarga maupun masalah pertemanan. Awalnya gw pastilah breakdown. Tapi, semakin gw dewasa, masalah yang gw hadapin bukannya makin mudah, malah makin rumit.

Lah terus? Menurut lo, gw harus nangis di kamar tiap hari karena kejamnya kehidupan? Menurut lo, gw harus nunjukkin ke semua orang kalo gw orang yang sedang mengalami penderitaan? Menurut lo, gw mestinya mengeluh sepanjang 20 paragraf di sosial media? Menurut lo, gw lebih baik ngurusin hidup orang lain, nyinyir, nyindir, sarkas ke orang-orang gw gw pikir nyakitin gw.

Jawabannya : YA NGGAK LAH!!!

Akuin lah, manusia itu egois. Dan makin keras kehidupan gw, makin sulit gw menjadikan perasaan lu sebagai prioritas, unless ya elu orang yang benar-benar bermakna dalam hidup gw. Lo pikir, gw peduli apa yang ada di otak manusia-manusia yang bahkan tiap hari gak ketemu? Lo pikir, gw bakal memohon-mohon minta maaf setiap kali gw menyinggung perasaan lo, padahal gw gak sengaja? YA NGGAK LAH!!!!

Lu ngapain si nangis-nangis hidup drama? Gara-gara masalah kecil aja jadi cemen lo. Nih gantian gw yang bully ya. Lain kali kalo punya masalah, ada yang nyinggung, ada yang bikin mangkel, gak usah terlalu dipikirin lah. Pake prinsip : dalam 5 tahun ke depan, apakah ini akan mempengaruhi hidup gw? Kalo nggak, yaudah, bisa aja kali. Ya marah silahkan sesaat, tapi gak perlu sampe berepisode segala. Kenapa sih, butuh rating tinggi ya kayak rating drama korea?

Lama-lama eneg juga denger keluhan dan aduan dengan adegan sinetron yang disebabkan karena hal kecil. Katanya udah gede, gimana nanti kalo lo gak lagi hidup bergantung orang tua, ketika masyarakat bahkan gak tau lo siapa, gak bisa selalu peduli apa yang ada di otak lo? Mau punya nervous breakdown?

Hidup keras. Lah elu jangan lembek, tapi jadi lebih keras. Kalo nggak, serius dah, gak bakal survive lu.

Rabu, 22 Februari 2017

Ketika Kamu Tak Bisa Bersantai Ria

Setiap kali gw melihat seseorang sedang duduk santai dan bahagia, sementara gw lagi menarik rambut karena hampir gila (figuratively, sometimes literally), pertanyaan muncul dalam kepala : itu orang chill amat, kok gw nggak?

Apa yang berbeda? Gw bertanya-tanya sendiri dalam hati. Kenapa gw selalu lompat dari satu kegiatan ke aktivitas lainnya, merasakan pressure tinggi atas kegagalan dan tanggung jawab yang diemban, sedangkan manusia di sekitar gw bisa selonjor kaki sambil minum air hangat, ketawa-tawa bahagia? Ada aja yang muncul di pikiran : akademik (tolong nilai sayaaa, toloooong), organisasi (yang sering menyita pikiran dan tenaga), ekspektasi orang tua(sudah cukup membanggakan gak sih gw), masa depan(sebenernya cita-cita gw apa), kesendirian (hash), semua-muanya yang memiliki banyak ketidakpastian. Belajar sebanyak mungkin, mengeset target, "Ini lho, gw harus disini, gw harus disitu, gw harus ngasih ini dan itu," tanpa berhenti barang sejenak. 

Question in point : apa gw gak mau diri gw sendiri bahagia? Kenapa gw menclok dari satu tantangan ke tantangan lain, gak bisa berhenti, terus berjalan? Kenapa gw harus punya list, kenapa gw sangat terganggu ketika sesuatu yang gw gak bisa capai, tidak tercapai sama sekali? Kenapa gw gak ongkang-ongkang kaki juga sambil menyeruput teh hangat?

Makin mengganggu ketika pertanyaan itu gak dilontarkan dari diri gw sendiri, orang lain pun mengatakan hal yang sama. "Kenapa sih lo gak hidup mengalir aja, tenang, santai, gak usah nyari susah?" tanya seorang sobat suatu hari.

Jujur, saat itu gw gak bisa jawab. Sehingga gw merenung panjang. Apa gw gak normal?

Jadi, gw sempat rehat sejenak. Pada suatu periode waktu, gw mundur perlahan-lahan tanpa diketahui orang-orang. Gak hadir kegiatan apapun kira-kira satu bulan. Melangkah mundur sejenak. Apa sih, yang gw cari sebagai manusia? Uang? Pahala? Sukses? Kebanggaan orang tua? Ilmu?

Setelah sebulan itu, harus gw katakan bahwa gw mengalami kebosanan yang luar biasa. Ternyata, gak enak jadi yang diam saja. Tapi, sekali lagi : kenapa? Apa sih alasan yang bisa bikin gw menggila, harus lari-lari mengejar semuanya?

Gw menemukan jawabannya ketika menemukan tumpukan buku sakti di meja belajar gw yang udah butek gegara gw tulisin terus.

Sewaktu jaman pelatihan manajemen diri, disarankan kita bikin AKU SRK (gw lupa kepanjangannya) yang berinti mimpi gw selama empat tahun ke depan. Let me write what my dreams was about :
1. IPK > 3,5 (belom tercapai... dan pesimis wkwk)
2. JADI ASLAB SIMAN (sudah pasti tidak tercapai)
3. SUKSES MENGIKUTI UKM (bye bye)
4. PUNYA BANYAK TEMAN DI SURABAYA (banyak alhamdulillah)
5. MENGIKUTI SETIDAKNYA SATU ORMAWA (tercapai)
6. SETIDAKNYA IKUT SATU LOMBA (belum tercapai)
7. MENJADI SEKRETARIS DI ORMAWA YANG DIIKUTI (agak meleset, tapi gak apa-apa)
8. IKUT VOLUNTEER DI INTERNATIONAL OFFICE ITS (mustahil tercapai pada poin ini)
9. IKUT ABC (ini apa yak? Lupa dah)

Semua yang gw tulis di atas, banyak dicoret-coret, banyak di revisi di tengah jalan. Kepuasan tersendiri bagi gw untuk mencapainya satu persatu.

Jadi, gw ketawa sendiri. Bahkan ketika gw masih mahasiswa baru bau kencur, gw merasa perlu untuk punya target-target yang harus dicapai. 3 buku tebal udah gw isi dalam perjalanan yang gw lakukan untuk memenuhi mimpi itu, target-target ini. Gimana bisa sih gw berpikir kalo gw gak normal? Gw adalah seorang pemimpi yang sedang mengejar impiannya. Kok bisa-bisanya gw mau santai-santai, mengabaikan apa yang diinginkan?

Sebenernya tujuan gw nulis ini apa sih? Untuk mengingatkan temen-temen yang di luar sana. Hei, yang lagi capeek banget, yang lagi kehilangan motivasi, yang gak tau mau ngapain di hidupnya, atau yang kayak gw, mempertanyakan keputusan untuk menjalankan ini semua : coba gali isi kepala. Sebenernya lo tau kok mau ngapain, cuma males mikir aja. Sebenernya motivasi masih ada disana, lo males berjuang aja. Wajar mempertanyakan banyak hal, namanya manusia, kan punya akal. Kaki punya, tangan punya, gak heran kalo dipake kerja keras.

Jadi, tunggu apa lagi? Segera cari apa sih ambisi lo, biar gak galau terus. Karena, serius, deh, apa sih hidup tanpa pressure?

Senin, 13 Februari 2017

Organisatoris vs Pengorganisir Acara

Seperti yang udah sering gw bilang sebelumnya, sejak SMP (iye, masih bocah) gw udah terjun ke dunia 'organisasi' yang ada di almamater. Kalo diitung, kasarnya 8 tahun ini gw berkutat dengan manusia, masalah, kegiatan, manusia, masalah, kegiatan. Makin tua, makin kompleks dan menyusahkan, juga menantang sekaligus menyenangkan.

Jadi, tulisan dengan tema "anak sekarang lebih suka jadi event organizer dibanding organisatoris" adalah tulisan yang basi (dan bikin jengkel) menurut gw. Di post dari satu generasi ke generasi lainnya, dari satu organisasi ke organisasi lainnya, berintikan : kita angkatan yang maunya gampang-gampang, sekali kerja kelar, gak mau duduk-duduk melingkar, menyeruput kopi sambil membicarakan perkara almamater, bangsa, dan negara.

Lho, tulisan gw juga basi, dong? Ya iya, emang. Maapin. Gw cuma pengen menyumbang salah satu sudut pandang yang muncul di sela-sela perdebatan tetangga sebelah.

Pertama, pertanyaan dasar : sebenernya organisatoris itu yang kayak gimana si? Sampe detik ini, jujur gw masih belom bisa jawab secara akurat. Yang ikut OSIS kah, di SMA? Yang ikut BEM kah, di kampus? Yang hobi ngerjain program kerja, atau yang suka nongkrong sambil berbincang problem berat (because, people, these two are not always 'meet', trust me.)? Yang demen 'nukang', apa yang forum sampe tengah malem? Yang berprinsip 'let it flow', atau 'fase mengajar-dididik'? Untuk organisasi non-profit, definisinya cukup luas.

Sedangkan, event organizer itu lumayan mudah lah ya diartiin. Itu, lho, yang suka ngerjain acara-acara. Acara yang gimana, sih? Ya, pokoknya acara. Jadi panitia, garap dari konsep di awal sampe teknis di hari akhir. Yang direkrut orang, pokoknya baik klien maupun manusia EO, both dapet profit, secara materiil atau nggak (sertifikat, misalnya).

Opini-opini yang dituangkan di sosial media bergagasan bahwa kita-kita ini gak mau susah, atau kalo gw kutip "jadi event organizer aja, ah!". Maunya yang cepet kelar, dapet untung, seenggaknya sesuatu deh, tipe-tipe pamrih. Gak ikhlas, seperti penghuni sekre-sekre BEM ini atau himpunan itu pada zaman tidak terlalu dahulu kala yang rela berkorban jiwa, raga, dan tenaga untuk kepentingan bersama.

Naini, pertanyaan tidak dasar : salahkah kalo 'anak jaman sekarang' memilih jadi pengorganisir acara dibanding organisatoris?

Perspektif itu tiga dimensi, lu gak bisa liat dari satu sisi untuk menjelaskan kebenarannya. Gimana bisa tau kalo gajah itu endut kalo liat dari depan doang? Oke, contoh yang lebih akurat : di mata kuliah Menggambar Teknik, gimana lo bisa tau itu mesin apaan kalo liat dari samping tok, atau atas aja? Gabisa, ges.

Untuk menjawab pertanyaan tidak dasar itu, gw berusaha diplomatis. Gw 'bermain' di organisasi dan cukup mengenal baik polanya  (meski gw gak lulus pelatihan manajemennya, but yeah I know it a bit), juga sudah nyemplung jadi event organizer berbarengan dengan gw cicip OSIS SMP.

Dibilang proses menyelenggarakan acara lebih mudah, ah, nggak juga. Pressure jelas lebih berat, target disusun dari awal (meski kadang meleset), miskomunikasi jelas diharamkan (walau sering terjadi), melihat hal detail, sepele, remeh, supaya semua lancar, mencapai satu tujuan. Kalo dikata 'mau untung doang'... iya dan nggak. Usaha jelas banyak, tapi benefit juga gak kalah membanjir : cara komunikasi, koordinasi, mengelola, dkk dll dst.

Diujar berorganisasi cuma untuk orang-orang yang mau mikir... bener sih, tapi  apa sebenernya coba, mau mikir itu? Hanya bermodal rasa ingin tahu dan pengen mendengarkan, gak susah timbul kalo udah niat dari jiwa. Ya, berorganisasi berat, gak gampang, tapi manfaat yang didapet lebih besar : membuka wawasan, pikiran, yang terutama adalah mengenali karakter manusia yang sebenar-benarnya, sesuatu yang gak gampang lu dapet kalo cuma jadi 'panitia'. Memahami kenapa dia berbuat begitu, kenapa dia berbuat begini, dan apa reaksi yang paling tepat yang harus lu keluarin. Membuat lu menghargai proses. Sehingga makna-makna kecil yang gak dipahami orang lain bisa lo artikan, "Oalah, ini maksudnya." Berguna untuk kehidupan betulan nantinya.

Kalo lo bilang "Ah, semua punya kurang dan lebih, pilih salah satu aja!" gw gak setuju. Baik berorganisasi maupun jadi EO, lo harus coba dua-duanya, karena, face it, nilai-nilai yang didapet dari kegiatan-kegiatan itu berbeda jauh - sama-sama softskill, tetapi lain ranah. Lagian, apa guna lo mahir melahirkan acara paling keren sejagad bumi tapi gak bisa handle manusia? Dan, apa guna lo mampu memanajemen sumber daya orang hingga tingkat produktivitasnya maksimal (azek) tapi teknisnya kacau balau babak belur? Kombinasi dari keduanya menciptakan keindahan yang hakiki (azek dua), greater good for everyone.

Yang paling penting : lah emang kenapa kalo lo mau dapet sesuatu yang menguntungkan diri lo? Bahkan Joey Tribbiani bilang, kan, there is no selfless good deeds. Hal baik yang kita lakukan itu sebenernya untuk ego kita sendiri. Jadi kalo lo para event organizer merasa derajat lebih rendah dari kakak-kakak yang suka berorganisasi, atau organisator yang suka memandang sebelah mata para pengorganisir acara, apaan dah, sadar kan kalo 'gelar' yang kalian sandang itu sama-sama mengandung kata-kata organize?

Sekian.

Senin, 06 Februari 2017

Ah, Aku Ini

Sebenernya udah berapa lama ya aku menjauhi tatapanmu? Aku gak ingat jelas. Tapi rasanya menyakitkan, walau memudahkan.

Setiap kali kita bicara, kulempar pandangan ke keningmu, manusia sebelahmu, gerakan di belakangmu. "Jangan lihat matanya," otakku memerintah, dan aku mematuhi.

Apalagi ketika kamu menjauh. Itu membuat usaha jauh lebih mudah. "YES! Dia pergi!" batin berteriak gembira, meski hati menangis karena dibuat patah. Ya, tapi, apa mau dikata. Aku tau ini semua untuk menghindari rasa sakit yang lebih parah.

Sampai hari itu.

Ketika dengan bodohnya aku menuruti keinginan. Ketika aku merasakan tatapanmu ke wajahku. Ketika aku membiarkan logika. Ketika dengan tololnya aku mengacuhkan perintah kepalaku untuk tidak melaksanakannya. Ketika aku tidak mampu menghindar barang sedetik.

Jadi kutatap matamu.

Awalnya biasa. Detik berlalu, kemudian semuanya kembali. Semua perasaan yang sudah kubuang ke recycle bin otak, menuju ke tempat semula. Seluruh pikiran tentang kamu yang kukunci dalam peti hati rapat-rapat, berhamburan keluar. Segalanya menghantam.

Aku tidak bisa berpaling.

Menit itu, dalam pandangan itu, aku paham kamu tidak akan sadar. Kamu tidak akan memiliki perasaan apapun untuk aku. Aku tahu. Tapi, aku tidak bisa mencegah.

Dengan bangga, beberapa minggu yang lalu aku menyatakan diri aku bebas dari pikat kamu (setelah tangisan yang begitu mengerikan, tentunya). Ternyata, gak juga. Ketika mataku terkunci sama kamu, semua kembali.

Sialan.

Kamis, 10 November 2016

"Nanti kalo gua diketawain, gimana?"

Sewaktu gw mengikuti Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional beberapa tahun yang lalu, seorang dosen dari UGM menjatuhkan sebuah bom ke dalam kelas. "Mengapa kalian tidak bertanya?"

Pertanyaan itu muncul karena si Ibu sudah membicarakan bahasannya selama kira-kira setengah jam, tapi tidak ada reaksi dari peserta, termasuk gw. Pertanyaan itu mengundang pandangan bingung, lirik sana-sini, muka-muka menunduk menghindari tatapan beliau. Apa yang dibahas waktu itu, gw gak inget. Tetapi, bagian ini gak bisa ilang dari otak sampe sekarang.

"Saya heran, mengapa orang Indonesia itu enggan sekali bertanya?" beliau berjalan keliling kelas dengan ekspresi sebal. "Kalian tinggal angkat tangan, bertanya, saya menjawab, semua paham, perkemahan ini tidak sia-sia. Kalo di luar negeri, ada satu hal yang membingungkan sedikit saja, pasti mereka nanya. Saya yakin, materi tadi gak sepenuhnya dipahami Anda."

Dalam hati, gw ketawa mencemooh. Ini orang ngomong apa dah, pikir gw kala itu. Bisa-bisanya nantang kita buat nanya. Kalo gw nanya, nanti gw diejek, lagi. Dibilang "sok tau", "sok pinter", pokoknya depannya 'sok'. Emangnya dia mau nanggung malunya kita-kita?

"Hala boong lu Sar, mana ada kalo nanya diketawain," mungkin gitu yang baca ini tulisan. Tapi ini beneran, ges. Fenomena ini terjadi.

Dari kecil, gw suka banget baca. Novel, komik, koran, buku hukum punya om, buku akuntansi punya sepupu, dibaca aja. Tentu aja dong, banyak topik yang sulit buat dipahami anak SD, membuat gw suka bertanya. Tentang kecelakaan, kasus korupsi, DPR-MPR, apa itu debit kredit, kenapa bensin harganya naik turun, kenapa kebijakan presiden ini membuat masyarakat itu marah, blablabla. Those kind of questions.

Akibatnya? Di kalangan keluarga, gw dipanggil "Rungsing." Artinya bikin pusing, ruwet. Banyak nanya, banyak bacot. Kalo muka gw nongol, terus ada buku disitu, pasti diumpetin sama om, tante, sepupu, biar gw gak baca, jadi gak nanya. Membuat gw belajar untuk mencari tahu segalanya sendiri, kurangin nanya-nanya.

Hingga gw SMP, gw mengalami dilema. Pembina KIR waktu itu, Bu Ria, sangat senang dengan sikap gw yang kepo abis, tingkat curiosity tinggi (tidak berlaku untuk pelajaran), tapi kalo gw nanya apa-apa di kelas, temen-temen gw ngeliatin dengan makna "Duh lu lagi, lu lagi, gak bosen apah?"

Gw lalu belajar. Adaptasi. Mengurangi pertanyaan yang keluar untuk menghindari tatapan itu. Gw jadi salah satu dari mereka : manusia-manusia berotak kosong yang kerjanya ngeledekin orang nanya. Gw yakin satu hal : pasti ada orang-orang yang kayak gw, yang suka melontarkan pertanyaan, kepo,  akhirnya menyingkirkan keingintahuannya karena gak mau diejek orang lain.

Sekarang, di bangku kuliah, dilema ini kembali terjadi. Sebagian dosen mengeluh karena mahasiswanya tidak bertanya, sebagian mendengus ketika mendengar mahasiswanya bertanya. Lagi forum, yang nanya diketawain, giliran nanya dijawab "Ya tau sendirilah, masa harus nanya." Di organisasi, pas kita salah, dimarahin karena gak nanya senior, "Kenapa sih kamu gak nanya?", eh pas nanya, dijawabnya "Masa kayak gitu aja nanya, udah kuliah tau." Eleuh eleuh, maunya apa sih?

Intinya : belajar sebanyak-banyaknya. Kalo ada bingung barang hanya seupil, nanya aja. Kalo ada yang ledekin, kasih tatapan maut. Jaman udah maju begini, masih mau keseret budaya-budaya lawas yang bikin bodoh?

Yang sering ngeledekin... mending belajar lagi gih, biar ikutan nanya. Daripada kata-katanya dibuang buat ngatain orang. Dosa, tau.

Sumpah sumpah apa sih yang ditakutin?!


Dari maha-agak-siswa yang kesel gegara temen-temennya takut nanya.

Senin, 07 November 2016

Tahun yang Buruk

Bulan Januari sampe Februari penuh dengan tekanan yang membuat derajat otak mencapai titik didih, mengetahui bahwa orang-orang yang dulu kita percaya mulai jadi bajingan, tamparan sana-sini, dibenci atasan.

Maret sampai dengan Mei penuh dengan tipu daya, muslihat, gosip, isu, kata-kata kotor, strategi, kebohongan, yang membuat diri rasanya gak mampu lagi menaruh pikiran baik kepada orang lain.

Juni hingga Juli ditampar dengan kenyataan, keadaan rumah yang tidak sama, kehilangan tempat yang bisa dirasakan sebagai tempat pulang, jatuh kepercayaan diri, tak bisa berpikir jernih.

Agustus dihina, diinjak orang, diperlakukan seperti orang bodoh, dimaki seakan telinga tak mampu dengar, dipandang bagai manusia paling buruk rupa abad ini.

September ditempa dengan pertemuan dengan orang baru yang melelahkan, kepura-puraan untuk menutupi isi hati, kegigihan yang ternyata malah dianggap palsu, kerja keras yang tidak membuahkan hasil.

Oktober berisi air mata, hati dipatahkan tanpa sengaja, kehilangan seorang sahabat karena alasan yang tidak jelas, kehilangan seorang lagi karena kesibukan, kehilangan lagi karena absennya pemahaman antar diri masing-masing. Isinya hanya banjir tangisan di tempat tidur setiap mengingat betapa jauh aku melangkah sejak hari kemarin, yang kuhabiskan sendiri, 1 Januari.

November mulai capek berdiri tegak.
Aku capek menahan tangis, aku capek menahan amarah, kepala terhantam godam tak terlihat. Hancur.

Anak rantau yang rumah tak lagi sama, tapi tempat tinggal sekarang bukan tempat pulang. Seorang yang berusaha kuat dan dianggap kuat, namun sebenernya begitu ingin berteriak keras, memukul meja hingga patah, menangis tersedu-sedu sampai lega. Perempuan yang tentu saja punya perasaan, yang seringnya diabaikan.

Aku tak kuat lagi. Butuh kalender baru. Butuh kertas putih bersih, lembaran halus tanpa jejak tinta dan lecak.

Aku ingin meninggalkan 2016.

Sabtu, 15 Oktober 2016

Jatuh pada Masa Lalu

It's really unexpected to see your face today.

I've been searching, asking for your presence these last many weeks. Nevertheless, you were gone, without any trace. I couldn't see you. I couldn't ask what were you doing yesterday, or the day before that, or the day before that.

After you said what you really think about us, I cried my eyes out. I was being that girl in the cliche romantic film we always mocked every time we had the chance. When I listened to our song. Or when I remembered about our last conversation. Or when anyone asked me about you.

I feel stupid, then I met you.

You didn't act like there were something wrong. And I tried to keep up. Seriously, I tried. But I can't. I couldn't hold myself to see the real you. Different you. Different person. I don't know who you are. It made me ask. If I don't even know you now, how can I be still in love with you? We talked. I realized you don't who I am now either.

So what am I crying about? Who am I falling in love with? You, or past you?